Home » » IKHLAS KARENA ALLOH

IKHLAS KARENA ALLOH

Written By TABIB AGUS KONSULTAN KESEHATAN on Sabtu, 22 Juli 2017 | 04.34

Tulisan ini sebenarnya lebih cocok untuk diri saya sendiri, sebagai pengingat. Nggak ada maksud menggurui dan mempengaruhi. Kalau nggak suka, skip saja, anggaplah ini pendangkalan akidah, beressss. Kuamati, ustadz yang  kariernya cepat meroket sekarang ini adalah jenis ustadz yang mengiming-ngimingi umatnya cepat  kaya (materi) melalui ibadah. Mengajarkan umatnya materialistis. Menjadikan agama tidak lebih dari transaksi dagang. Karena agama utama seluruh dunia di zaman sekarang adalah materialisme. Beragama tapi dengan cara berpikir materi. Beribadah hanya ingin dapat laba. Rajin shalat Dhuha agar diterima jadi PNS, pengusaha, atau ingin kaya. Naik haji ingin tokonya laris. Sedekah ingin dapat kembalian berlipat. Ingin masuk surga pun karena kerinduan materialistis. Dalam beragama cara berpikirnya masih jasad. Pahala dibayangkan sebagai duit, emas, akik, mobil mewah,  Itu jenis ibadah level terendah. Menjadikan Tuhan sebagai mitra bisnis. Nggak ada imbalan, malas ibadah. Ciri khas penganut agama dengan pola pikir materi adalah agama hanya dijadikan pelarian saat "kalah". Lari ke Tuhan hanya saat lagi miskin, susah, butuh sesuatu, mengincar laba berlipat-lipat. Setelah kaya atau pas nggak butuh, lupa agama, buka usaha nggak bismillah, tapi saat bangkrut nangis bombay minta tolong Tuhan. Yo wis lah, no problem, semua butuh proses. Cuman nek iso ojok suwe-suwe di level itu (tapi aku sendiri masih di level itu, ojok ngomong sopo-sopo). Karena sebenarnya itu rugi. Walau semua orang pasti melalui proses itu. Kata Simbah, Ibadah itu dalam rangka bersyukur. Sedekah itu berbagi rezeki, tidak mencari rezeki. Fokuskan ibadah hanya pada (untuk) Tuhan. Nggak usah mikir laba, karena pasti dapat. Tapi jangan terlalu berharap laba itu selalu berupa materi. Lha wong dikasih hidup dan dijadikan manusia saja itu sudah karunia yang luar biasa. Maka sebenarnya nggak pantas manusia beribadah berharap laba. Tapi Tuhan senang  mendengar hambaNya berdoa. shalat dihubungkan dengan kesuksesan materi. Memang ada hubungannya, tapi menghubung-hubungkan shalat dengan materi itu merusak esensi shalat. Shalat itu menjaga hubungan baik (silahturahim) kita dengan Allah. Soal nanti kamu dikasih kekayaan atau nggak, itu urusan Allah. Nggak pakai shalat pun semua orang bisa kaya. Ada seseorang yang saya kenal, shalatnya jos gandos selalu di masjid, tapi tetap jadi kuli bangunan sampai sekarang. Nasibnya tidak berubah. Mungkin Tuhan tidak memberi kekayaan materi, tapi berupa kekayaan yang lain. Misal diberi ketenangan hidup, kere tapi ayem. Nggak punya uang, tapi ada saat dibutuhkan. Dan hati yang damai itu jauh lebih kaya dari harta yang paling mewah di dunia ini. Jadi jangan dipikir orang yang sukses dan kaya raya itu selalu karena rajin shalat atau ibadahnya bagus. Juga jangan dipikir kalau miskin itu karena kurang shalat atau jarang ibadah.  Hidup itu nggak hitam putih. Mangkane ojok kakean nonton sinetron. Dan jangan salahkan Tuhan kalau kamu rajin shalat, sering istighosah, tapi tetep awet kere. Terus mangkel karo wong cino. Soale ndelok wong cino sing nggak tau shalat, nggak pernah istighosah, tapi sugih pol, uripe makmur. Tuhan pun digugat, "Sampeyan iku ya'opo se Tuhan, jarene Rahman Rahim, aku wis istighosah ping sewidak jaran kok tetep kere ae. Gak asyik sampeyan!" Gaya hidup berlebihan membuat pelakunya jadi konsumerisme. Membeli sesuatu yang sebenarnya nggak butuh-butuh amat atau nggak sesuai sikon. Sudah tahu gundul tapi beli sisir. Sudah tahu nggak ada tempat parkir kok beli mobil. Itu memperkosa fakta namanya. Dan semua kekonyolan itu muaranya karena menyikapi agama dengan pola pikir materi. Jadi sekarang monggo, mau beragama dengan cara yang sejati atau pola pikir materi. Sakarepmu, pilih yang the best atau bedes, monggo. Semua tergantung pada hati, pikiran dan iman anda masing-masing. Tapi yang jelas iman tidak bisa distandarisasi. Wis ah, cukup. Sori tidak menerima perdebatan. Matur nuwun.
Share this article :

0 komentar:

facebook

twitter

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2016. RUMAH SEHAT IBNU MALKAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger